Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017
HTI Dibubarkan

Mengapa Pemerintah Membubarkan HTI? Ini Jawabannya

Home / Peristiwa / Mengapa Pemerintah Membubarkan HTI? Ini Jawabannya
Mengapa Pemerintah Membubarkan HTI? Ini Jawabannya Foto: Tempo
Fokus Berita

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sejarah munculnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) diketahui tidak bisa dilepaskan dari Hizbut Tahrir yang ada di Palestina. Awalnya, di Palestina didirikan oleh oleh Taqiyuddin an-Nabhani pada 1953.

Selanjutnya, HTI hadir sebagai gerakan politik yang mengusung panji penegakan sistem khilafah al-Islamiyah.

Itu tersebut jelas memunculkan konsekuensi bahwa gerakan Hizbut Tahrir menyebar dan punya sifat lintas negara. Akhirnya juga muncul di Indonesia, yang awalnya adalah partai politik di Palestina.

Dari data yang dihimpun Litbang TIMES Indonesia, tujuan dari Hizbut Tahrir adalah menghidupkan konsep politik yang diklaim merupakan kewajiban dalam kitab suci, sunah, dan telah diwujudkan dalam sejarah kekuasaan Islam sejak era Nabi Muhammad sampai kejatuhan imperium Utsmani, sekitar Abad ke-18 Masehi.

Mengutip penjelasan pendiri Taqiyuddin an-Nabhani dalam tulisannya di kitab Daulah Islam dan kitab Mafahim Hizbut Tahrir, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh HTI Press sejak 2004 dan 2007, bahwa generasi umat Islam saat ini tidak tertarik dengan konsep khilafah.

Mengapa tidak tertarik? Karena tidak pernah menyaksikan atau punya pengalaman dengan pemerintahan Islam. Berawal dari pemikiran tersebut, pada akhirnya Muslim memilih menggunakan falsafah hidup lain yang membuat kemurnian Islam menjadi terkikis.

Lebih lanjut Taqiyuddin menyampaikan bahwa hal tersebut adalah kemunduran besar kaum muslimin. Taqiyuddin juga mengistilahkannya dengan invasi budaya (ghazwu ats-tsaqafi) yang menyebabkan kaum muslimin enggan menerapkan hukum-hukum Islam pada sistem pemerintahan mereka.

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com