Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017

Ini Syarat Menang di Pilkada 2018 Menurut LSI Denny JA

Home / Politik / Ini Syarat Menang di Pilkada 2018 Menurut LSI Denny JA
Ini Syarat Menang di Pilkada 2018 Menurut LSI Denny JA Direktur SIGI LSI Network, Ardian Sopa (dua dari kanan) saat berkunjung ke kantor redaksi TIMES Indonesia. (Foto: timmy/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 telah usai. Pelajaran berharga yang bisa dipetik menghadapi kontestasi politik daerah ke depan. 

Pada 2018, sebanyak 171 daerah akan menggelar Pilkada. Masing-masing meliputi 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Para calon yang maju tentu menghendaki kemenangan dan terpilih sebagai pemimpin daerah.

Berkaca dari Pilkada DKI Jakarta 2017, Direktur Survei Strategi Indonesia (SIGI) Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network, Ardian Sopa, mengatakan bahwa pemimpin tidak saja dinilai dari kinerja, namun juga personality.

"Kinerja saja tidak cukup, tapi personality harus dikuatkan," kata Sopa kepada TIMES Indonesia, Jumat (5/5/2017) di Malang.

Dia menjelaskan, selama ini orang melihat pemimpin yang sukses akan terpilih kembali pada periode selanjutnya. Namun, dalam konteks Pilkada DKI Jakarta 2017 hasilnya berbeda.

Secara kinerja, lanjutnya, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebenarnya dianggap sukses oleh masyarakat. Namun, dalam kontestasi Pilkada DKI, Ahok mengalami kekalahan.

"Kepuasan masyarakat di atas 75 persen, dan biasanya rata-rata hampir di semua Pilkada, ketika kepuasan masyarakat di atas 75 persen, itu relatif mayoritas akan terpilih kembali," papar alumnus FISIP UI ini.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya butuh pemimpin yang mampu bekerja, tetapi aset personality turut menjadi pertimbangan.

Dalam konteks Pilkada, dia mengingatkan, siapapun calon yang ingin memenangkan pertarungan, harus melihat kondisi mayoritas masyarakat yang ada.

Contohnya, pada pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur, calon yang maju jangan sampai bertentangan dengan mayoritas yang ada, dalam hal ini Nahdlatul Ulama. Pun di Jawa Barat yang memiliki populasi Muslim sangat besar. Calon pemimpin yang maju jangan sampai menciderai atau mengeluarkan pernyataan yang melukai kelompok-kelompok Muslim.

"Ketika ingin menang, dilihat dari populasi besarnya siapa, harusnya pro terhadap kelompok besar ini. Tetapi kemarin (di Pilkada DKI Jakarta) ada masalah sehingga tidak pro," tandasnya. (*)

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com